| 0 comments ]

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2012 akan diintegrasikan dengan kelulusan ujian nasional (UN).

Ketua Umum Panitia Pelaksana SNMPTN 2012 Akhmaloka mengatakan, SNMPTN tahun ini akan lebih ketat karena ada dua variabel yang digunakan yaitu nilai UN dan SNMPTN.

"Kita kombinasikan siswa yang nilai UN-nya bagus (lulus) dan hasil SNMPTN-nya juga bagus, itu yang akan diterima dan layak masuk perguruan tinggi negeri," ujar Akhmaloka.

Mekanisme tersebut berlaku untuk dua jalur SNMPTN, yaitu jalur undangan dan ujian tulis. Jalur undangan, siswa diseleksi melalui nilai rapor dan ranking di sekolah yang dinyatakan nilainya bagus. Namun bila UN tidak lulus, maka siswa tidak akan diterima di perguruan tinggi negeri.

"Selain itu kalau ujian tulisnya bagus, tapi UN tidak bagus tidak akan diterima di PTN," kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Adanya kebijakan pemerintah pusat yang akan menjadikan nilai atau kelulusan UN sebagai evaluasi akhir mendapat sejumlah reaksi dari berbagai kalangan. Salah satunya dari pakar pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Said Hamid Hasan. Menurut dia, perlu kebijakan baru dalam pelaksanaan UN sehingga tidak merugikan siswa. Ada perbedaan antara desain UN dan SNMPTN.

Desain UN adalah achievement test untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar dari apa yang sudah dipelajari. Sementara desain SNMPTN adalah desain predictive test, yaitu menentukan prediksi apakah seseorang akan berhasil dalam program studinya.

"Kalau UN mau dijadikan alat menentukan kelulusan ke perguruan tinggi, desainnya harus diubah menjadi predictive test dan siswa SMA yang tidak mau ke perguruan tinggi tidak perlu ikut, mereka dinyatakan selesai berdasarkan ujian sekolah saja. Hal seperti itu yang seharusnya terjadi," ungkap Said.

Dengan adanya perubahan desain tersebut, UN hanya diikuti oleh siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara yang tidak melanjutkan cukup mengikuti ujian sekolah, sehingga tidak perlu tes dua kali bagi siswa yang mau ke perguruan tinggi.

"UN sekarang dihapuskan dan SNMPTN diganti menjadi UNMTN, desain dan soalnya dikembangkan oleh perguruan tinggi. Kalau seperti ini tidak ada siswa yang akan dirugikan," ujar Said.

Akan tetapi, kebijakan menjadikan UN evaluasi akhir kelulusan SNMPTN 2012 belum sesuai dengan yang dipaparkannya, sehingga kedua tes tersebut berjalan sendiri-sendiri. Said juga mempertanyakan apakah nantinya perguruan tinggi mau menerima sistem baru tersebut atau tidak.

"Kecuali kalau mereka takut ke menteri. Nah kalau rektor takut ke menteri, ya sudah habislah pendidikan kita," ucapnya.

Rektor UPI Sunaryo menambahkan, bila kelulusan SNMPTN merupakan gabungan nilai UN dan SNMPTN, hal ini belum dibicarakan di Majelis Rektor. "Bisa saja cara ini digunakan, tapi bobot penilaian tetap ada di SNMPTN, karena aspek dan tujuan yang diukur dalam UN dan SNMPTN berbeda," katanya.

Menurut dia, nilai UN belum bisa digunakan langsung sebagai alat seleksi masuk PTN. Cara ini masih belum bisa dilakukan karena UN masih mengandung banyak persoalan dan alat evaluasi (tes) yang digunakan tidak didesain untuk keperluan seleksi.

"Jika kelulusan UN digunakan sebagai syarat masuk PTN, sehingga hasil SNMPTN, baik undangan maupun tertulis, bisa dinyatakan gagal bila siswa tidak lulus UN, hal ini sama dengan tahun lalu. Artinya, kelulusan UN menjadi syarat untuk ikut SNMPTN dan masuk PTN. Hal ini terjadi jika SNMPTN digelar sebelum kelulusan UN diumumkan," jelas Sunaryo.

0 comments

Post a Comment